Minggu, 27 Juli 2014

Siap Terluka



Siap Terluka

Upacara bendera berakhir. Semua murid menepi untuk berteduh sembari menunggu pengumuman juara classmeeting. Aku dan teman-temanku duduk dibawah pohon. Tiga orang anak laki-laki duduk tak jauh di sebelah kananku. Aku melirik mereka. Memperhatikan secara sekilas hingga aku menangkap postur tubuh mereka. Tinggi dan tegap, itulah ciri sosok yang duduk di paling kiri. Sementara yang tengah, tinggi, manis, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus dan yang paling menarik adalah dia memiliki lesung pipit. Dan yang terakhir yang paling kanan, gemuk dan agak tinggi. Aku tak merasa asing melihat mereka berdua ˗˗ yang paling kanan dan paling kiri. Tapi entah mengapa aku masih agak asing melihat laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka. Seperti tak pernah melihatnya.
 
Tiba-tiba terdengar suara berbisik padaku. “Eh liat deh yang tengah, manis kan? Itu cowok yang aku ceritain. Duh, lesung pipitnya manis banget.” Sontak aku langsung menoleh. Iya benar. Dia memang manis. Iya, sekadar manis. Nggak lebih. Tak terasa acara selesai. Murid-murid kembali ke kelas masing-masing. Laki-laki lesung pipit itu berjalan di belakang kami ˗˗ Aku dan Chaca. Tak sengaja aku melihatnya.

Beberapa menit setelah memasuki ruang kelas bel berbunyi. Tanda bahwa kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Rasanya malas sekali, baru pertama kali masuk sekolah setelah libur panjang usai pelajaran langsung di mulai. Hah. Untung saja kelasku tidak ada gurunya. Sepertinya kelas lain juga begitu kecuali yang gurunya begitu semangat untuk mengajar. Waktu istirahatpun telah tiba. Aku dan Chaca pergi ke kantin. Di perjalanan kami bertemu segerombolan anak laki-laki.
“Key, liat deh itu cowok yang tadi.”
“Ooh iya, tau aja sih kamu.”
“Iyalah..Chaca gitu.”

Segerombolan anak laki-laki itu pun berlalu. Aku dan Chaca kembali berjalan menuju kantin. Sejak pertemuan pertama di lapangan upacara itu, aku dan Chaca kerap bertemu dengan laki-laki lesung pipit itu. Kami sama-sama menyukai laki-laki berlesung pipit. Itu sebabnya setiap kali bertemu dengan laki-laki itu entah mengapa kami merasa senang. Perlu kalian ketahui bahwa menyukai tidak sama dengan mencintai. Kami berdua hanya sebatas suka dengannya. Lebih tepatnya suka dengan lesung  pipitnya. Dia terlihat lebih manis. Tak ada perasaan lebih dan tak pernah berpikir untuk berperasaan lebih. Dia seperti idola di mata kami. Hari demi hari silih berganti dan minggu demi minggu pun berlalu tapi kami sama sekali tak pernah tau siapa nama laki-laki itu. Memang tak pernah terbesit dibenak kami untuk mencari tau tapi entah mengapa rasanya aku ingin sekali mengetahui nama laki-laki itu.

Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasa. Kutaruh sepeda motoku di parkiran sekolah yang terletak di sebelah selatan. Aku turun. Kemudian kurapikan seragamku dan segera kulangkahkan kakiku melewati koridor dekat parkiran. Terlihat beberapa anak kelas XII berdiri di depan kelas XII IPA 7. Kebetulan aku melewati kelas itu karena memang kelas itu tak jauh dari kelasku. Hanya terpisah satu kelas. Aku tak tertarik untuk bergabung bersama mereka. Aku hanya melihatnya dan memilih untuk segera menuju kelas. Sampai di dalam kelas, pemandangan yang ku lihat tak jauh berbeda dengan yang di luar tadi. Teman-temanku sedang membicarakan sesuatu. Karena rasa ingin tahuku, aku pun segera mendekati mereka. Ternyata mereka membicarakan selebaran yang terpampang di depan pintu kelas XII IPA 7. Selebaran itu berisi survey pilihan prodi untuk SNMPTN. Pantas saja banyak anak yang merubunginya.

“Hey, nonton yuk guys. Kepo nih,” ajak Maura.
“Entar aja deh. Masih rame tauk. Noh liat,” jawab seorang temaku sambil menunjuk keluar.
“Oke deh. Ngikut aja.”
Akhirnya kita semua memutuskan untuk melihatnya nanti saat suasana menyepi. Jam biologi kosong. Ini merupakan momen paling menyenangkan. Why? Yaiyalah, secara jarang sekali ada jam kosong pas mapel biologi. Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian murid berngobrol ria saat jam kosong. Seperti sekarang ini. Aku rasa sebagian besar dari kita belum sadar bahwa ujian sudah di depan mata. Termasuk aku ini. Akan tetapi masih saja kita melakukan hal yang seharusnya sedikit demi sedikit kita tinggalkan demi tiga hari menuju masa depan. Ah, entahlah biar ku nikmati saja apa yang terjadi saat ini. Tak ada salahnya bukan? Tentu saja.

Chaca mengajakku ke koperasi untuk membeli tisu. Lagi-lagi aku bertemu dengan laki-laki itu. Aku penasaran. Tiba-tiba entah apa yang kulakukan ku coba untuk membaca nama yang ada di seragamnya. Sayangnya hanya “Yul” yang bisa ku baca. Ah, tiba-tiba muncul perasaan kecewa karena tak bisa membaca semua deretan huruf yang merangkai namanya. Aku terus memikirkannya. Memikirkan sebenarnya siapa namanya. Yul? Yuli? Yulmi? Yulis? Atau.. Yul siapa? Hmm entahlah. “Woi..knp key? Lagi mikirin apa sih?” “Eh..nggak apa-apa kok. Itu tadi aku liat nama cowok itu. Tapi Cuma depannya doang.” Ucapku dengan menunjukkan ekspresi atas kekesalan dan kekecewaanku. “Ciee ada yang naksir nih, cie mulai kepo nih. Diem-diem mikirin cie..” “Apaan sih cha. Orang cuma penasaran doang juga. Emang kamu nggak penasaran?” “Ngapain? Aku kan nggak naksir sama dia nggak ada rasa juga haha so, nggak perlu kepoin dia kali.” Lagi-lagi Chaca meledekku. “Iya deh iya yang udah punya gebetan.” Chaca tersenyum.

Akhirnya sampai juga di kelas. Seorang temanku mengajak untuk melihat selebaran itu. “Liat yuk...udah sepi tuh.” Aku dan teman-temanku pun beranjak ke tempat tersebut. Akhirnya sampai juga di depan kelas XII IPA 7. Kulihat deret per deret nama serta pilihan prodi yang terpampang di sana. Mulai dari IPA satu sampai IPA tujuh. IPA TUJUH!!!! Ya. Aku berhenti di selembaran yang berisikan nama-nama murid kelas itu. Ku cari nama itu. Nama laki-laki itu. YUL!!!! Aku segera mencarinya. Dan benar saja. Dia absen terakhir. YULIAN. Seketika aku merasa sangat senang. Saking girangnya ingin rasanya aku melompat dan berteriak. Entah perasaan apa yang kurasa. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta padanya? Entahlah. Yang penting sekarang aku sudah tahu namanaya. Namanya Yulian. Segera ku tarik tangan Chaca dan ku tunjukkan tulisan itu. “Yulian Cha, namanya Yulian. Liat kan?” “Wih, ketemu juga. Ciee..haha.” “Eh liat deh dia ngambil Teknik Informatika.” “Widih..keren tuh.” “Apa aku bilang...”

Ya..aku tak begitu heran ketika tahu bahwa dia memilih prodi Teknik Informatika karena sebelumnya tak sengaja aku pernah mempergokinya sedang asik dengan laptopnya. Dan saat itu juga aku memutuskan bahwa dia pasti laki-laki yang tak jauh dari bau-bau IT. Dan benar saja. Terbukti dengan pilihan prodinya. Puas melihat-lihat deretan nama itu, aku dan teman-temanku segera kembali ke kelas.

Tak lama setelah itu, di sekolahku diadakan sosialisasi SNMPTN mengingat sekarang sudah memasuki bulan Januari. Itu berarti tahap demi tahap Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah di mulai. Mulai dari pengisian PDSS oleh sekolah, verifikasi nilai rapor, pendaftaran SNMPTN kemudian finalisasi pendaftaran dan sampai tahap yang terakhir yaitu pengumuman.
Pagi itu aku dan teman-temanku segera menuju aula. Tempat itu masih sepi belum banyak yang datang kesana, jadi kami bisa memilih tempat duduk sesuka hati. Kami duduk di deretan bangku paling depan. Setelah mendapat tempat duduk aku menengok kebelakang. Dan aku melihat Yulian. Dia duduk agak di belakang bersama teman-temannya. Aku mencoba memperhatikannya beberapa saat. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.

Acara sosialisasi selesai. Semua murid kembali ke kelas. Kebetulan saat itu kelasku kosong. Jadi kami satu kelas memutuskan untuk pergi sembahyang di musholla. Sesampainya di sana kami segera mengambil air wudhu. Kemudian sholat. Aku dan Chaca selesai duluan. Jadi kami menunggu teman-teman yang lain di teras musholla. Kami duduk di teras sebelah selatan. Sambil menunggu kupakai kaos kaki dan sepatuku. Tiba-tiba seorang laki-laki yang disusul seorang temannya lewat di hadapanku. YULIAN!!! Hatiku berdebar kencang! Duh betapa tampannya wajah itu, seolah-olah bersinar bagaikan rembulan ditengah gelapnya malam. Hatiku meleleh dibuatnya. Mengapa ada laki-laki setampan dan semanis itu? Oh Tuhan, sepertinya aku benar-benar mulai jatuh cinta padanya.
Aku ternganga. “Subhanallah..bersinar cha.”
“Apanya yang bersinar?”
“Kamu nggak liat tadi?”
“Liat apa? Nggak liat apa-apa tuh.”
Matanya si Chaca merem kali ya? Masak ada laki-laki setampan itu nggak liat?
“Ihh..makanya jangan ngelamun terus. Tadi tuh ada Yulian lewat depan aku. Dia juga habis sholat tadi. Dan..subhanallah dia ganteng banget cha.”
“Iya deh iya yang lagi jatuh cinta, haha.”
Tadi itu seperti mimpi. Iya, mimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat yang sangat tampan. Baru kali ini aku melihat wajah sebersinar itu.

Tiba-tiba teman-temanku membuyarkan khayalku. Ternyata mereka sudah selesai sholat. Segera ku buang pikiran-pikiran tentang Yulian. Tapi tetap saja wajah laki-laki itu masih bertaburan di otakku. Kami pun bergegas kembali ke kelas.

Hari demi hari ku lalui sendiri. Beginilah nasib seseorang yang tak punya kekasih hati. Tapi aku tetap menikmati hidup ini. Hidupku masih bahagia tanpa hadirnya seorang laki-laki. Laki-laki bukanlah segalanya. Laki-laki bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan kita. Bukankah begitu?
Tak jarang aku bertemu dengan Yulian. Tapi tak ada yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa melihatnya. Menyapa pun aku tak bisa. Karena aku tak berani melakukannya. Aku tak punya cukup keberanian untuk sekadar menyapa atau memberi senyum perjumpaan padanya.

Januari telah berlalu. Kemudian disusul Februari. Lalu Maret. Aku mulai jarang bertemu dengannya. Biasanya aku melihat dia di dalam kelas atau ketika dia pergi ke toilet atau ketika dia bersama teman-temannya lewat di depan kelasku. Sepertinya dia memang tak pernah terlihat berada di lingkungan sekolah. Mungkin dia tidak masuk. Atau mungkin dia sibuk. Hari-hari tanpanya terasa begitu hampa. Hampir setiap hari ketika aku lewat di depan ruang kelasnya, aku berusaha untuk mencarinya, mencari tahu apakah dia ada di dalam sana. Tapi sepertinya hal itu sia-sia. Aku tak pernah menemukannya. Biasanya dia terlihat sibuk dengan laptop atau handphone nya. Aku berusaha untuk tidak mempedulikannya. Tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku terus memikirkannya. Aku berharap bisa bertemu dengannya, melihat wajahnya, senyumnya, dan manis lesung pipitnya.

Tak terasa 14 April akan segera tiba. Itu berarti ujian nasional juga sudah semakin di depan mata. Masa depan kita ditentukan selama tiga hari. Pembekalan dan les tambahan pun sudah di mulai. Hanya enam mapel ujian yang setiap hari diberi oleh guru dan yang kami pelajari. Setiap kali ada kesempatan kami manfaatkan untuk belajar bersama bab-bab yang belum kami kuasai dan selalu kami menyempatkan diri untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Kami berdoa semoga diberikan kelancaran saat ujian nanti.

Hari ini proses belajar mengajar khusus kelas XII ditiadakan. Seharusnya ini merupakan kabar bahagia untuk kami. Namun tidak untuk saat ini. Mungkin bisa dibilang ini adalah hari yang menyedihkan. Hari dimana kami semua saling maaf-maafan kepada teman sebaya baik teman sekelas maupun luar kelas. Meminta maaf kepada adik-adik kelas. Dan yang terpenting yaitu meminta maaf kepada guru-guru yang selama tiga tahun telah berbaik hati mendidik dan mengajar kami, yang menularkan seluruh ilmunya kepada kami. Air mata bercucuran dimana-mana. Seakan akan kami akan berpisah untuk selama-lamanya. Aku berusaha tetap tegar dalam situasi seperti ini. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Banyak orang berkata, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan ini hanyalah perpisahan sementara.

Aku dan teman-temanku masih di dalam kelas saling maaf memaafkan dan saling mendoakan. “Key, maafin aku ya, jangan lupain aku ya.” “Iya cha, aku juga minta maaf. Nggak bakal lupain kamu deh.” Hiks. Tak lama kemudian anak-anak kelas XII IPA 7 mendatangi kelasku. Aku langsung merapikan tempat dudukku. Ada Yulian disana. Satu per satu dari kami mulai berjabat tangan. Sampai pada giliranku, Yulian menyodorkan tangannya di depanku. Aku membalas tangan itu. Dia hanya berkata ‘maaf’ dan tersenyum kecil. Itu merupakan pertama kalinya aku berjabat tangan dengannya sekaligus merasakan sentuhan tangannya. Walaupun semua orang juga merasakannya. Sepertinya dia tak mengenaliku. Tentu saja tidak. Memangnya aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa yang tak harus dikenal olehnya. Hanya sebentar aku melihatnya, lalu dia pergi begitu saja.

Ah, aku tak harus memikirkan itu semua. Masih terlalu pagi untuk memikirkannya. Aku dan teman-temanku segera menuju ke kelas-kelas. Memasuki satu per satu kelas itu. Setelah itu kami ke kantor guru. Setelah semua selesai kami kembali ke kelas. Dan tak lama kemudian kami diperbolehkan untuk pulang. Hari itu pun usai.

Setiap kali aku dan teman-temanku pergi ke musholla, tak jarang aku bertemu dengannya ˗˗ Yulian. Biasanya kami bertemu di depan musholla. Terkadang kami juga bertemu di koridor. Aku senang ketika bertemu dengannya. Tapi semua itu, perasaan itu, ku simpan dalam-dalam. Bertemu dengannya entah mengapa membuatku lega. Seakan memberi isyarat bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja.
Pukul 06:30. HAH? Aduh kesiangan! Aku segera bergegas menuju kamar mandi tanpa menghiraukan tempat tidurku yang berantahkan. Dan segera ku kenakan seragam kebanggaanku lalu ku panasi sepeda motorku. Kali ini tak lama aku memanasi motor itu mengingat tak ada banyak waktu.
“Sarapan dulu key.”
“Sarapannya di sekolah aja deh mah, udah siang nih entar telat. Berangkat dulu ya mah.”
“Hati-hati di jalan key.”
“Iya. Daaa...”

Untung saja jalanan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa sampai sekolah lebih cepat. Kulajukan motorku secepat mungkin. Dan akhirnya sampai juga di sekolah. Sejumlah guru sudah berjaga di depan gerbang sekolah. Alhamdulillah. Kurang satu menit saja aku datang, pasti sudah mendapat hukuman. Tak lama kemudian gerbang di tutup. Ternyata tak sedikit murid yang terlambat. Aku segera berlari melewati koridor berharap guru yang mengajar di kelasku belum datang. Rasanya napasku terpingkal-pingkal. Dan jantungku berdebar-debar. Aku hampir sampai di depan kelas. Gerakan lari kakiku terhenti. Guru yang kumaksud berjalan di depanku. Mau tak mau aku harus mengikitunya dari belakang. Mungkin hanya itu yang bisa ku lakukan. Beruntungnya guru itu masih mentolerir keterlambatanku. Aku segera duduk dan mengeluarkan buku. Sepertinya detak jantungku mulai normal kembali. Lega.

Siang ini matahari begitu terik. “Key, makan yok.” “Ayo. Siap..” Aku dan Chaca pergi ke sebuah resto jepang untuk makan siang. Rencananya setelah itu kami akan berjalan-jalan. Kami memilih duduk di bangku deretan kanan nomor delapan. Seorang pelayan menghampiri kami. Kami segera memesan makanan. Kurang lebih lima belas menit kemudian makanan yang kami pesan datang. Kami langsung melahapnya habis-habisan karena sangat lapar. Makanan disini memang lezat. Tak heran jika banyak orang yang datang. Harganya juga lumayan. Sampai akhirnya kami kenyang. Tiba-tiba handphone Chaca berbunyi. “Hallo...” Chaca menjawab panggilan itu. Ternyata papanya yang menelfon.

“Key, sorry ya kayaknya kita nggak jadi pergi deh. Papaku udah on the way jemput nih.”
“Oke nggak apa-apa kok. Aku bisa pergi sendiri kali Cha...”

Kami menuju kasir. Kemudian aku menemani Chaca duduk di depan resto menunggu jemputan papanya. Tak lama kemudian papa Chaca datang. “Eh udah di jemput tuh. Duluan ya key..sorry nggak bisa nemenin. Kapan-kapan deh. Oke?” “Iya bawel..sana gih udah di tungguin tuh.” Chaca melambaikan tangan dan memberi senyum ceria. Dia memang anak yang periang.

Aku segera meninggalkan resto itu dan menuju ke sebuah toko buku. Ini adalah toko buku favoritku. Aku ingin mencari novel terbaru. Kubuka pintu toko itu dan kulihat-lihat jajaran rak buku di depanku. Aku mulai mencari satu per satu sampai akhirnya aku menemukan novel itu. Tapi aku tidak ingin pulang. Jadi aku memutuskan melihat-lihat buku yang lain. Kulihat buku demi buku satu-satu. Saat aku sedang membaca sebuah buku, seorang laki-laki berdiri tak jauh dari tempatku. Dari belakang sepertinya aku mengenali sosok itu. Laki-laki itu berbalik. Saat itu barulah aku tau siapa dia. Ternyata dia adalah Yulian! Oh tidak! Dia ada disini! Sendiri! Ah. Rasanya aku ingin berteriak lagi. Sepertinya aku semakin betah berada disana. Karena diam-diam bisa memperhatikan wajah manisnya. Aku pura-pura mencari-cari buku padahal sebenarnya aku sedang mengikutinya. Sepertinya dia tak menyadarinya. Aku menyukai momen-momen seperti ini. Kebahagiaanku tak berangsur lama. Dia keluar dari toko itu. Sepertinya buku yang diinginkannya tak ada disana. Berhubung dia pulang, aku juga ikut pulang. Hari ini hari yang menyenangkan.

Aku merasa bahagia setiap kali bertemu dengannya. Maka dari itu, aku senang jika ada acara kumpul bersama entah itu dalam rangka apa karena disitulah aku bisa bertemu dengannya. Misalnya saja saat acara istigosah ataupun saat acara motivator sebelum pelaksanaan ujian nasional. Sesekali mataku melirik ke arah tempat duduknya. Aku bisa melihatnya tertawa bersama teman-temannya. Aku selalu memperhatikan gerak geriknya. Hingga suatu malam aku memimpikannya. Mimpi yang begitu indah.
Akhirnya ujian nasional telah selesai. Lega rasanya. Salah satu beban berat dalam hidupku berkurang satu. Setelah ujian, semua siswa kelas XII di liburkan. Aku merasa sedih. Jika kami semua di liburkan, itu berarti aku tak bisa lagi bertemu dengan Yulian, laki-laki yang sejujurnya sangat aku cintai. Aku tak bisa lagi melihat manis lesung pipitnya, tak bisa lagi diam-diam memperhatikannya. Tapi tak apa, masih ada beberapa kesempatan bertemu dengannya sampai kami benar-benar terpisahkan.

Setelah dua minggu akhirnya hari yang kutunggu telah tiba. Mungkin bukan hanya aku yang menanti-nanti hari ini melainkan semua anak kelas XII. Hari ini hari perpisahan untuk kelas XII. Semua anak kelas XII berpenampilan rapi. Ada yang mengenakan kemeja, dress, jas dan batik. Semua terlihat tampan dan cantik. Juga terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya. ‘Sweet Memories of Smada’ menjadi tema perpisahan kali ini. Sepanjang acara kami di hibur dengan bermacam-macam hal, seperti tarian tradisional, dance, kolaborasi bernyanyi, drama, paduan suara dan lain sebagainya. Setiap kali anak kelas XII melewati red karpet pasti akan menjadi pusat perhatian, bagai raja dan ratu yang dikelilingi rakyatnya. Aku jadi sedikit canggung. Aku duduk di samping Chaca dan beberapa temanku yang lainnya. Aku dan teman-temanku sangat menikmati acara hari ini. Ketika aku menoleh ke kiri, tak sengaja aku melihat Yulian. Hari ini dia terlihat lebih tampan dengan batik yang dikenakannya. Sepertinya dia juga sangat menikmati acaranya. Ku perhatikan dia terus tertawa. Tawa bahagia yang terpancar dari wajahnya, ya aku bisa melihatnya. Akhirnya aku bisa kembali melihatnya.

Acara perpisahaan selesai, dilanjutkan dengan foto bersama. Semua anak sibuk dengan kameranya. Tiba-tiba aku ingin sesuatu. Aku ingin foto bersamanya, ya dengan Yulian. Tapi aku tak berani berbicara dengannya.
“Cha, pengen deh foto sama Yulian. Dia dimana ya?”
“Cari aja. Ayo..entar aku deh yang bilang ke dia.”
“Emang berani? Sok berani ih..”
“Lhah, ngapain nggak berani? Mari kita cari sang pujaan hati hehe.”

Chaca menarik tanganku. Dia menarikku dan mengajakku menyelusuri setiap sisi gedung. Tapi sosok yang kami cari tak ada disana. “Udah pulang kali Cha, udah ah capek.” “Nggak mungkin kali. Tuh, temennya aja masih pada di situ. Udah deh yuk cari lagi.” Sepertinya Chaca begitu semangat untuk mempertemukan aku dengannya. Kami mencarinya diluar. Baru beberapa menit kami keluar, tiba-tiba Yulian muncul di hadapan kami. Aku kaget. Seketika jantungku berdegup kencang. Sangat sangat kencang. Seluruh tubuhku gemetaran. Dan aku langsung memalingkan badan. Tapi tidak untuk Chaca. Dia malah mendekati dan berbicara dengannya. Tingkah Chaca begitu memalukan. Mana mungkin dia mau?

“Eh, temenku mau foto bareng. Boleh?”

Yulian menganggukkan kepala. Itu berarti dia mau. Oh, jantungku semakin berdebar-debar. Chaca menarik lagi tanganku sampai akhirnya aku berada tepat di samping Yulian. Aku tak berani memperlihatkan wajahku padanya. Tapi akhirnya mau tak mau aku harus melakukannya. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Kemudian dia pergi bergabung dengan teman-temannya. Untung saja tadi dia sendirian. Coba saja dia bersama teman-temannya. Mau ku taruh dimana wajahku?

Berhari-hari, berminggu-minggu ku lewati. Aku rindu dengannya. Aku ingin melihatnya. Kira-kira kapan aku akan bertemu dengannya? Terakhir kali kami bertemu ketika cap tiga jari untuk ijazah di sekolah. Libur usai ujian nasional begitu membosankan. Tak ada kegiantan yang kulakukan. Setiap hari hanya menonton televisi. Sampai akhirnya ada pesan masuk di handphoneku. Pesan itu dari temanku. Dia memberi tahu bahwa lusa semua anak kelas XII dimohon datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Dalam hati aku bahagia. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya.

Aku sudah tak sabar menunggu lusa. Aku sangat berterima kasih karena tuhan masih memberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku merindukannya. Aku juga rindu dengan teman-temanku. Rindu keseruan mereka yang tak ada habisnya. Siang berganti malam. Malam berganti pagi. Pagi berubah menjadi siang. Siang berganti lagi menjadi malam. Dan akhirnya pagi pun datang. Aku semangat sekali hari ini. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Yulian.

Sampai juga aku di sekolahan. Sekolah belum begitu ramai. Aku dan beberapa orang temanku duduk di depan kantor guru. Disana juga ada beberapa teman Yulian. Tapi sepertinya dia belum datang. Tak lama kemudian datang seorang teman Yulian yang kabarnya dekat dengan Yulian. Wanita itu duduk di sampingku. Aku tak senang dengan posisi seperti ini. Mengapa dia harus duduk di sampingku? Memangnya tak ada tempat lain? Atau dia memang sengaja? Entahlah. Terserah dia.

Yulian tiba-tiba datang. Dia menyapa wanita itu dan duduk di sebelahnya. Mereka terlihat sangat akrab. Sakit hatiku melihat semua itu. Lebih baik aku tak tahu. Daripada aku tahu dan menyakiti hatiku. Mereka terus mengobral kemesraan seperti tak ada orang lain disana, seperti dunia hanya milik mereka berdua. Aku memutuskan untuk pergi dari sana. Aku tak kuat jika harus terus melihatnya. Aku ingin menangis tapi aku menahannya. Aku ingin marah tapi aku tak berhak. Aku cemburu tapi aku sadar siapa diriku. Aku sadar siapa aku, siapa Yulian dan siapa wanita itu. Mengapa semua begitu menyakitkan. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tak pernah diharapkan. Aku terabaikan. Dan aku tersisihkan.

Untuk seseorang yang tak pernah bisa ku miliki. Entah mengapa aku menyukaimu. Entah apa yang membuatku suka padamu. Entah angin apa yang telah menghantarkanmu ke hatiku. Aku tak tahu. Yang aku tahu, hatiku adalah milikmu. Entah apa yang istimewa darimu hingga aku jatuh hati padamu. Entah mengapa aku jatuh hati pada seseorang yang bahkan tak mengenalku. Tak tahu siapa aku dan dari mana asalku. Kau telah menorehkan warna di hidupku. Juga pemberi semangat dalam hidupku. Tapi mengapa juga kamu membuat air mata ini menetes di pipiku. Mungkin aku terlalu mengharapkanmu. Mengharapkan cinta dan kasih sayangmu yang seharusnya tak pernah kutunggu. Mengharapkan kehadiran sosokmu yang yang tak pernah ada untukku. Bagaimana mungkin aku mencintai orang sepertimu? Yang jelas-jelas tak tahu isi hatiku. Bagaimana bisa kamu tahu isi hatiku jika peduli akan perasaanku saja kamu tak mau. Bagaimana mungkin jantungku berdebar-debar saat jumpa denganmu atau sekedar memikirkanmu? Bagaimana mungkin hatiku bergejolak saat ku sebut namamu dalam hatiku? Sangat tidak pantaskah aku memilikimu? Salahkah diri ini karena telah mencintaimu? Begitu tak mau tahukan kamu tentang apapun mengenai aku? Bahkan ketika hatiku menjerit meminta bantuanmu, kamu tak menolongku. Begitu hinanyakah diriku hingga tak pantas bersanding denganmu?

Katakan apa yang harus ku lakukan. Apa aku harus merengek-rengek, memohon-mohon sambil berlutut di depanmu? Aku selalu menerima segala bentuk pencampakan itu. Dan berharap suatu hari nanti kamu membalas perasaanku. Tenang saja, aku akan selalu setia menunggumu. Walau namaku tak pernah ada di hatimu. Walau kamu lebih memilih bersama wanita itu. Aku mencoba seolah-olah aku tak apa-apa. Yang sejujurnya hatiku sangat terluka. Bagaimana bisa tidak terluka? Ketika aku melihat kalian duduk berdampingan dan tertawa bersama. Hatiku remuk dan hancur. Hatiku teriris-iris. Dan bukan hanya mata ini yang menangis, hatikupun ikut menangis. Bagaimana tidak? Aku menyaksikannya di depan mataku. Bagaimana bisa aku berpura-pura seperti tak ada apa-apa?
Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Aku tak lebih cantik dari dia. Aku juga tak lebih pintar darinya. Dia sosok yang sempurna. Sementara aku jauh dari sempurna. Aku berusaha untuk tegar. Aku berusaha untuk menerima kenyataan. Dan aku berusaha untuk merelakan. Tapi aku tak bisa jika harus melupakan. Karena hatiku masih untukmu. Aku tak pernah bisa membencimu walau beribu kali kamu mengecewakanku.

Aku tak pernah menyalahkanmu. Semua ini salahku. Mengapa aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu? Aku hanya ingin kamu peka akan perasaan itu tanpa pernah memberitahukannya padamu. Sebenarnya aku telah memberitahukannya padamu. Mungkin kamu tak tahu. Bodohnya aku. Mengapa aku tak berani melakukan itu? Tapi tak apa. Walaupun aku tak bisa memilikimu, walaupun aku tak berada di dekatmu, walaupun aku tak duduk bersamamu, doaku selalu ada untukmu. Semoga bahagia dengan pilihanmu. Bahagiamu juga bahagiaku.

Kamis, 19 Juni 2014

Kreasi Huruf

Ini kreasi-kreasi hurufku dari cabai. Cuma iseng aja. Keren kannn??? hehe




















Selasa, 21 Januari 2014