Sabtu, 26 September 2015

Clara Gadis Penyelamat Hutan


 

Hari ini adalah hari minggu. Pagi di hari minggu ini sangat cerah. Udara di luar juga sangat segar. Burung-burung berkicau dengan gembira. Begitu juga dengan seorang gadis cilik nan cantik bernama Clara yang tinggal tak jauh dari hutan. Dia tinggal di sebuah rumah yang sederhana di pinggir hutan. Walaupun sederhana, rumah itu terlihat rapi dan terawat. Banyak bunga yang tumbuh di halamannya. 

Pagi ini, Clara terlihat sangat bahagia. Dia menyiram bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumahnya sambil bernyanyi riang gembira. Clara memang anak yang ceria. Selain pandai menyanyi, clara juga piawai dalam memainkan biola. 

Seperti biasa, karena hari ini adalah hari minggu dan sekolah libur, maka clara bermain ke hutan bersama temannya. Teman clara ini bernama Elina. Rumah elina tak jauh dari rumah clara. Akan tetapi, rumah elina jauh lebih dekat dengan hutan daripada rumah clara. Oleh karena itu, clara pergi ke rumah elina terlebih dahulu sebelum pergi ke hutan. “Elina.. elina..” panggil clara dari depan rumah elina. Elina pun membukakan pintu dan menyambut clara. “Eh clara, sini masuk dulu. Kita nunggu ibuku dulu ya, soalnya ibuku baru keluar sebentar dan tidak ada yang menjaga rumah” kata elina kepada clara. Clara pun menjawab, “baiklah taka pa, kita tunggu ibumu sampai pulang.” 

Tak lama kemudian, ibu elina pun pulang. Mereka berpamitan dan bermain ke hutan. Clara dan elina mempunyai tempat favorit di hutan. Yaitu di bawah sebuah pohon yang rindang dan terdapat bunga yang bewarna-warni di sekelilingnya. Clara dan elina sama-sama menyukai bunga. Tempat favorit mereka itu sangat indah, teduh, dan sejuk. Karena disana terdapat banyak bunga, maka disana juga terdapat banyak kupu-kupu. “aku sangat menyukai tempat ini, elina.” Kata clara. Kemudian elina menjawab, “aku juga, tempat ini sangat indah, rasanya aku tidak ingin pulang.” Kemudian mereka berdua bernyanyi dan menari bersama kupu-kupu yang berada disana. Jika berada disana, mereka suka lupa waktu, sampai-sampai tak terasa jika hari sudah mulai sore. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang. 

Suatu hari clara merasa bosan. Clara pun pergi ke hutan sendiri karena elina sedang pergi bersama ibunya. Dia membawa biola kesayangannya. Dan seperti biasa, clara pergi ke tempat favoritnya. Dia duduk dibawah pohon dan memainkan biolanya menikmati udara segar pagi itu. 

Setelah selesai memainkan biolanya, clara memutuskan untuk pergi berjalan-jalan disekeliling hutan. Sampai akhirnya clara bertemu dengan sebuah pohon dan seekor monyet yang membawa sebuah pisang ditangannya. Clara pun menghampiri pohon dan monyet itu. Dan dia bertanya, “hai pohon, mengapa kamu terlihat sedih?” “siapa kamu?” kata pohon itu. “perkenalkan, namaku clara. Rumahmu tak jauh dari sini. Aku sedang berjalan-jalan menikmati udara pagi. Dan kemudian aku melihatmu, dan nampaknya kamu sedang sedih.” “ooo.. darimana kamu tau? Ya, aku memang sedang sedih.” “mengapa kamu bersedih, berceritalah kepadaku, mungkin aku bisa membantumu.” Kemudian pohon itu mulai menceritakan masalahnya kepada clara. “aku sedih karena satu persatu teman-temanku hilang diambil orang.” “ha? Apa maksudmu? Hilang diambil orang?” “iya clara. Apa kamu tidak tahu? Di depan sana ada manusia yang sedang menebang pohon dengan seenaknya. Dia mengambil teman-temanku, dan mungkin sebentar lagi orang itu juga akan menebangku.” Monyet pun ikut berbicara, “iya benar clara. Orang itu sangat rakus. Aku juga ikut sedih karena jika semua pohon ditebang, aku tidak mempunyai tempat bergelantungan lagi. Aku tidak bisa bermain-main diatas pohon.” “ha? Benarkah? Aku belum pernah melihat orang menebang pohon dihutan ini. Bukankah kita di larang menebang tanpa izin dari petugas?” “benar clara. Jika kamu tidak percaya, lihat saja sendiri.” Kata monyet. “baiklah aku akan kesana dan aku akan membantu kalian.” 

Clara pun segera pergi ke tempat yang telah diceritakan oleh pohon tadi. Dan ketika dia sampai ditempat itu, ternyata benar apa yang dikatakan oleh pohon dan monyet. Clara pun bersembunyi dibalik semak-semak. Dia melihat seseorang sedang menebang pohon tanpa izin petugas. Dia terus mengamati orang itu. Orang tersebut terus menebang pohon sesuka hatinya. 

Setelah mengamati orang tersebut, clara segera meninggalkan tempat itu. Karena dia anak yang pemberani, dia pun memutuskan untuk segera melaporkan peristiwa tersebut kepada petugas hutan. 

Ditengah perjalanan, dia kembali bertemu dengan pohon dan monyet. “hei clara, kamu mau kemana?” Tanya si monyet. “aku akan menemui petugas hutan dan melaporkan orang tersebut nyet.” “apa kamu yakin?” Tanya pohon. Clara pun menjawab, “tentu saja aku yakin. Orang itu tidak bisa terus dibiarkan. Kalo terus dibiarkan, lama-lama semua pohon akan hilang dan hutan menjadi gundul.” “kamu memang anak yang baik dan pemberani clara.” Kata monyet. “ya sudah aku harus segera pergi, sampai jumpa lagi teman-teman.” 

Kemudian clara berlari mememui petugas hutan. “selamat siang, pak.” Kata clara. “selamat siang. Waduh ada apa nak? Kok di hutan sendirian.” “begini, pak, nama saya clara. Rumah saya di tepi hutan sana. Saya sedang bermain dihutan. Kemudian saya melihat seseorang sedang menebang pohon disana. Dan orang tersebut menebang pohon sesuka hatinya.” “oh benarkah? Dimana tempatnya? Bisakah kamu mengantarkan bapak kesana?” “baik, pak.”

Selanjutnya, clara dan petugas hutan menuju tempat dimana orang yang tadi menebang pohon. Sesampainya disana, si penebang pohon kaget dan ketakutan. “hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menebang pohon sembarangan?” gertak si petugas hutan. “maaf, pak saya minta maaf, saya tidak tahu apa-apa.” Kata si penebang pohon. “saya tidak peduli. Sekarang kamu ikut saya.” Petugas itu pun membawa si penebang pohon itu ke pos. Dan petugas itu mengucapkan terima kasih kepada clara atas keberaniaanya.

Setelah petugas dan penebang pohon itu pergi, clara menghampiri pohon dan monyet. “hei, sekarang kalian tidak usah bersedih. Penebang pohon itu sudah ditangkap oleh petugas.” “wah..kamu memang hebat clara.” Kata pohon. “iya benar, kamu hebat clara, terima kasih sudah menyelamatkan hutan ini.” Kata monyet.” “sama-sama, teman. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikan hutan kita?” “hahaha, kamu benar clara.”


*dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Berbahasa dan Bersastra Indonesia*