Siap
Terluka
Upacara bendera berakhir. Semua murid menepi untuk
berteduh sembari menunggu pengumuman juara classmeeting. Aku dan teman-temanku
duduk dibawah pohon. Tiga orang anak laki-laki duduk tak jauh di sebelah
kananku. Aku melirik mereka. Memperhatikan secara sekilas hingga aku menangkap
postur tubuh mereka. Tinggi dan tegap, itulah ciri sosok yang duduk di paling
kiri. Sementara yang tengah, tinggi, manis, tidak terlalu gemuk juga tidak
terlalu kurus dan yang paling menarik adalah dia memiliki lesung pipit. Dan
yang terakhir yang paling kanan, gemuk dan agak tinggi. Aku tak merasa asing
melihat mereka berdua ˗˗ yang paling kanan dan paling kiri. Tapi entah mengapa
aku masih agak asing melihat laki-laki yang berada di tengah-tengah mereka. Seperti
tak pernah melihatnya.
Tiba-tiba terdengar suara berbisik padaku. “Eh liat
deh yang tengah, manis kan? Itu cowok yang aku ceritain. Duh, lesung pipitnya
manis banget.” Sontak aku langsung menoleh. Iya benar. Dia memang manis. Iya,
sekadar manis. Nggak lebih. Tak terasa acara selesai. Murid-murid kembali ke
kelas masing-masing. Laki-laki lesung pipit itu berjalan di belakang kami ˗˗ Aku
dan Chaca. Tak sengaja aku melihatnya.
Beberapa menit setelah memasuki ruang kelas bel
berbunyi. Tanda bahwa kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Rasanya malas
sekali, baru pertama kali masuk sekolah setelah libur panjang usai pelajaran
langsung di mulai. Hah. Untung saja kelasku tidak ada gurunya. Sepertinya kelas
lain juga begitu kecuali yang gurunya begitu semangat untuk mengajar. Waktu
istirahatpun telah tiba. Aku dan Chaca pergi ke kantin. Di perjalanan kami
bertemu segerombolan anak laki-laki.
“Key, liat deh itu cowok yang tadi.”
“Ooh iya, tau aja sih kamu.”
“Iyalah..Chaca gitu.”
Segerombolan anak laki-laki itu pun berlalu. Aku dan
Chaca kembali berjalan menuju kantin. Sejak pertemuan pertama di lapangan upacara
itu, aku dan Chaca kerap bertemu dengan laki-laki lesung pipit itu. Kami
sama-sama menyukai laki-laki berlesung pipit. Itu sebabnya setiap kali bertemu
dengan laki-laki itu entah mengapa kami merasa senang. Perlu kalian ketahui
bahwa menyukai tidak sama dengan mencintai. Kami berdua hanya sebatas suka
dengannya. Lebih tepatnya suka dengan lesung
pipitnya. Dia terlihat lebih manis. Tak ada perasaan lebih dan tak
pernah berpikir untuk berperasaan lebih. Dia seperti idola di mata kami. Hari
demi hari silih berganti dan minggu demi minggu pun berlalu tapi kami sama
sekali tak pernah tau siapa nama laki-laki itu. Memang tak pernah terbesit
dibenak kami untuk mencari tau tapi entah mengapa rasanya aku ingin sekali
mengetahui nama laki-laki itu.
Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasa.
Kutaruh sepeda motoku di parkiran sekolah yang terletak di sebelah selatan. Aku
turun. Kemudian kurapikan seragamku dan segera kulangkahkan kakiku melewati
koridor dekat parkiran. Terlihat beberapa anak kelas XII berdiri di depan kelas
XII IPA 7. Kebetulan aku melewati kelas itu karena memang kelas itu tak jauh
dari kelasku. Hanya terpisah satu kelas. Aku tak tertarik untuk bergabung
bersama mereka. Aku hanya melihatnya dan memilih untuk segera menuju kelas.
Sampai di dalam kelas, pemandangan yang ku lihat tak jauh berbeda dengan yang di
luar tadi. Teman-temanku sedang membicarakan sesuatu. Karena rasa ingin tahuku,
aku pun segera mendekati mereka. Ternyata mereka membicarakan selebaran yang
terpampang di depan pintu kelas XII IPA 7. Selebaran itu berisi survey pilihan
prodi untuk SNMPTN. Pantas saja banyak anak yang merubunginya.
“Hey, nonton yuk guys. Kepo nih,” ajak Maura.
“Entar aja deh. Masih rame tauk. Noh liat,” jawab
seorang temaku sambil menunjuk keluar.
“Oke deh. Ngikut aja.”
Akhirnya kita semua memutuskan untuk melihatnya
nanti saat suasana menyepi. Jam biologi kosong. Ini merupakan momen paling
menyenangkan. Why? Yaiyalah, secara jarang sekali ada jam kosong pas mapel
biologi. Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian murid berngobrol ria saat jam
kosong. Seperti sekarang ini. Aku rasa sebagian besar dari kita belum sadar
bahwa ujian sudah di depan mata. Termasuk aku ini. Akan tetapi masih saja kita
melakukan hal yang seharusnya sedikit demi sedikit kita tinggalkan demi tiga
hari menuju masa depan. Ah, entahlah biar ku nikmati saja apa yang terjadi saat
ini. Tak ada salahnya bukan? Tentu saja.
Chaca mengajakku ke koperasi untuk membeli tisu.
Lagi-lagi aku bertemu dengan laki-laki itu. Aku penasaran. Tiba-tiba entah apa
yang kulakukan ku coba untuk membaca nama yang ada di seragamnya. Sayangnya
hanya “Yul” yang bisa ku baca. Ah, tiba-tiba muncul perasaan kecewa karena tak
bisa membaca semua deretan huruf yang merangkai namanya. Aku terus
memikirkannya. Memikirkan sebenarnya siapa namanya. Yul? Yuli? Yulmi? Yulis? Atau..
Yul siapa? Hmm entahlah. “Woi..knp key? Lagi mikirin apa sih?” “Eh..nggak
apa-apa kok. Itu tadi aku liat nama cowok itu. Tapi Cuma depannya doang.” Ucapku
dengan menunjukkan ekspresi atas kekesalan dan kekecewaanku. “Ciee ada yang naksir
nih, cie mulai kepo nih. Diem-diem mikirin cie..” “Apaan sih cha. Orang cuma
penasaran doang juga. Emang kamu nggak penasaran?” “Ngapain? Aku kan nggak
naksir sama dia nggak ada rasa juga haha so, nggak perlu kepoin dia kali.” Lagi-lagi
Chaca meledekku. “Iya deh iya yang udah punya gebetan.” Chaca tersenyum.
Akhirnya sampai juga di kelas. Seorang temanku
mengajak untuk melihat selebaran itu. “Liat yuk...udah sepi tuh.” Aku dan
teman-temanku pun beranjak ke tempat tersebut. Akhirnya sampai juga di depan
kelas XII IPA 7. Kulihat deret per deret nama serta pilihan prodi yang
terpampang di sana. Mulai dari IPA satu sampai IPA tujuh. IPA TUJUH!!!! Ya. Aku
berhenti di selembaran yang berisikan nama-nama murid kelas itu. Ku cari nama
itu. Nama laki-laki itu. YUL!!!! Aku segera mencarinya. Dan benar saja. Dia
absen terakhir. YULIAN. Seketika aku merasa sangat senang. Saking girangnya
ingin rasanya aku melompat dan berteriak. Entah perasaan apa yang kurasa. Oh
Tuhan, apa aku jatuh cinta padanya? Entahlah. Yang penting sekarang aku sudah
tahu namanaya. Namanya Yulian. Segera ku tarik tangan Chaca dan ku tunjukkan
tulisan itu. “Yulian Cha, namanya Yulian. Liat kan?” “Wih, ketemu juga.
Ciee..haha.” “Eh liat deh dia ngambil Teknik Informatika.” “Widih..keren tuh.”
“Apa aku bilang...”
Ya..aku tak begitu heran ketika tahu bahwa dia
memilih prodi Teknik Informatika karena sebelumnya tak sengaja aku pernah
mempergokinya sedang asik dengan laptopnya. Dan saat itu juga aku memutuskan
bahwa dia pasti laki-laki yang tak jauh dari bau-bau IT. Dan benar saja. Terbukti
dengan pilihan prodinya. Puas melihat-lihat deretan nama itu, aku dan
teman-temanku segera kembali ke kelas.
Tak lama setelah itu, di sekolahku diadakan
sosialisasi SNMPTN mengingat sekarang sudah memasuki bulan Januari. Itu berarti
tahap demi tahap Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah di mulai.
Mulai dari pengisian PDSS oleh sekolah, verifikasi nilai rapor, pendaftaran
SNMPTN kemudian finalisasi pendaftaran dan sampai tahap yang terakhir yaitu
pengumuman.
Pagi itu aku dan teman-temanku segera menuju aula.
Tempat itu masih sepi belum banyak yang datang kesana, jadi kami bisa memilih
tempat duduk sesuka hati. Kami duduk di deretan bangku paling depan. Setelah
mendapat tempat duduk aku menengok kebelakang. Dan aku melihat Yulian. Dia
duduk agak di belakang bersama teman-temannya. Aku mencoba memperhatikannya
beberapa saat. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Acara sosialisasi selesai. Semua murid kembali ke
kelas. Kebetulan saat itu kelasku kosong. Jadi kami satu kelas memutuskan untuk
pergi sembahyang di musholla. Sesampainya di sana kami segera mengambil air
wudhu. Kemudian sholat. Aku dan Chaca selesai duluan. Jadi kami menunggu
teman-teman yang lain di teras musholla. Kami duduk di teras sebelah selatan. Sambil
menunggu kupakai kaos kaki dan sepatuku. Tiba-tiba seorang laki-laki yang
disusul seorang temannya lewat di hadapanku. YULIAN!!! Hatiku berdebar kencang!
Duh betapa tampannya wajah itu, seolah-olah bersinar bagaikan rembulan ditengah
gelapnya malam. Hatiku meleleh dibuatnya. Mengapa ada laki-laki setampan dan
semanis itu? Oh Tuhan, sepertinya aku benar-benar mulai jatuh cinta padanya.
Aku ternganga. “Subhanallah..bersinar cha.”
“Apanya yang bersinar?”
“Kamu nggak liat tadi?”
“Liat apa? Nggak liat apa-apa tuh.”
Matanya si Chaca merem kali ya? Masak ada laki-laki
setampan itu nggak liat?
“Ihh..makanya jangan ngelamun terus. Tadi tuh ada
Yulian lewat depan aku. Dia juga habis sholat tadi. Dan..subhanallah dia
ganteng banget cha.”
“Iya deh iya yang lagi jatuh cinta, haha.”
Tadi itu seperti mimpi. Iya, mimpi bertemu dengan
malaikat. Malaikat yang sangat tampan. Baru kali ini aku melihat wajah
sebersinar itu.
Tiba-tiba teman-temanku membuyarkan khayalku.
Ternyata mereka sudah selesai sholat. Segera ku buang pikiran-pikiran tentang
Yulian. Tapi tetap saja wajah laki-laki itu masih bertaburan di otakku. Kami
pun bergegas kembali ke kelas.
Hari demi hari ku lalui sendiri. Beginilah nasib
seseorang yang tak punya kekasih hati. Tapi aku tetap menikmati hidup ini.
Hidupku masih bahagia tanpa hadirnya seorang laki-laki. Laki-laki bukanlah
segalanya. Laki-laki bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan kita. Bukankah
begitu?
Tak jarang aku bertemu dengan Yulian. Tapi tak ada
yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa melihatnya. Menyapa pun aku tak bisa. Karena
aku tak berani melakukannya. Aku tak punya cukup keberanian untuk sekadar
menyapa atau memberi senyum perjumpaan padanya.
Januari telah berlalu. Kemudian disusul Februari.
Lalu Maret. Aku mulai jarang bertemu dengannya. Biasanya aku melihat dia di
dalam kelas atau ketika dia pergi ke toilet atau ketika dia bersama
teman-temannya lewat di depan kelasku. Sepertinya dia memang tak pernah
terlihat berada di lingkungan sekolah. Mungkin dia tidak masuk. Atau mungkin
dia sibuk. Hari-hari tanpanya terasa begitu hampa. Hampir setiap hari ketika
aku lewat di depan ruang kelasnya, aku berusaha untuk mencarinya, mencari tahu
apakah dia ada di dalam sana. Tapi sepertinya hal itu sia-sia. Aku tak pernah
menemukannya. Biasanya dia terlihat sibuk dengan laptop atau handphone nya. Aku
berusaha untuk tidak mempedulikannya. Tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku
terus memikirkannya. Aku berharap bisa bertemu dengannya, melihat wajahnya,
senyumnya, dan manis lesung pipitnya.
Tak terasa 14 April akan segera tiba. Itu berarti
ujian nasional juga sudah semakin di depan mata. Masa depan kita ditentukan
selama tiga hari. Pembekalan dan les tambahan pun sudah di mulai. Hanya enam
mapel ujian yang setiap hari diberi oleh guru dan yang kami pelajari. Setiap
kali ada kesempatan kami manfaatkan untuk belajar bersama bab-bab yang belum
kami kuasai dan selalu kami menyempatkan diri untuk mendekatkan diri kepada
tuhan. Kami berdoa semoga diberikan kelancaran saat ujian nanti.
Hari ini proses belajar mengajar khusus kelas XII
ditiadakan. Seharusnya ini merupakan kabar bahagia untuk kami. Namun tidak
untuk saat ini. Mungkin bisa dibilang ini adalah hari yang menyedihkan. Hari dimana
kami semua saling maaf-maafan kepada teman sebaya baik teman sekelas maupun
luar kelas. Meminta maaf kepada adik-adik kelas. Dan yang terpenting yaitu
meminta maaf kepada guru-guru yang selama tiga tahun telah berbaik hati
mendidik dan mengajar kami, yang menularkan seluruh ilmunya kepada kami. Air
mata bercucuran dimana-mana. Seakan akan kami akan berpisah untuk
selama-lamanya. Aku berusaha tetap tegar dalam situasi seperti ini. Ini
bukanlah akhir dari segalanya. Banyak orang berkata, dimana ada pertemuan pasti
ada perpisahan. Dan ini hanyalah perpisahan sementara.
Aku dan teman-temanku masih di dalam kelas saling
maaf memaafkan dan saling mendoakan. “Key, maafin aku ya, jangan lupain aku
ya.” “Iya cha, aku juga minta maaf. Nggak bakal lupain kamu deh.” Hiks. Tak
lama kemudian anak-anak kelas XII IPA 7 mendatangi kelasku. Aku langsung
merapikan tempat dudukku. Ada Yulian disana. Satu per satu dari kami mulai
berjabat tangan. Sampai pada giliranku, Yulian menyodorkan tangannya di depanku.
Aku membalas tangan itu. Dia hanya berkata ‘maaf’ dan tersenyum kecil. Itu
merupakan pertama kalinya aku berjabat tangan dengannya sekaligus merasakan
sentuhan tangannya. Walaupun semua orang juga merasakannya. Sepertinya dia tak
mengenaliku. Tentu saja tidak. Memangnya aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa
yang tak harus dikenal olehnya. Hanya sebentar aku melihatnya, lalu dia pergi
begitu saja.
Ah, aku tak harus memikirkan itu semua. Masih
terlalu pagi untuk memikirkannya. Aku dan teman-temanku segera menuju ke
kelas-kelas. Memasuki satu per satu kelas itu. Setelah itu kami ke kantor guru.
Setelah semua selesai kami kembali ke kelas. Dan tak lama kemudian kami
diperbolehkan untuk pulang. Hari itu pun usai.
Setiap kali aku dan teman-temanku pergi ke musholla,
tak jarang aku bertemu dengannya ˗˗ Yulian. Biasanya kami bertemu di depan
musholla. Terkadang kami juga bertemu di koridor. Aku senang ketika bertemu
dengannya. Tapi semua itu, perasaan itu, ku simpan dalam-dalam. Bertemu
dengannya entah mengapa membuatku lega. Seakan memberi isyarat bahwa dia dalam
keadaan baik-baik saja.
Pukul 06:30. HAH? Aduh kesiangan! Aku segera
bergegas menuju kamar mandi tanpa menghiraukan tempat tidurku yang berantahkan.
Dan segera ku kenakan seragam kebanggaanku lalu ku panasi sepeda motorku. Kali
ini tak lama aku memanasi motor itu mengingat tak ada banyak waktu.
“Sarapan dulu key.”
“Sarapannya di sekolah aja deh mah, udah siang nih
entar telat. Berangkat dulu ya mah.”
“Hati-hati di jalan key.”
“Iya. Daaa...”
Untung saja jalanan tidak terlalu ramai, jadi aku
bisa sampai sekolah lebih cepat. Kulajukan motorku secepat mungkin. Dan
akhirnya sampai juga di sekolah. Sejumlah guru sudah berjaga di depan gerbang
sekolah. Alhamdulillah. Kurang satu menit saja aku datang, pasti sudah mendapat
hukuman. Tak lama kemudian gerbang di tutup. Ternyata tak sedikit murid yang
terlambat. Aku segera berlari melewati koridor berharap guru yang mengajar di
kelasku belum datang. Rasanya napasku terpingkal-pingkal. Dan jantungku
berdebar-debar. Aku hampir sampai di depan kelas. Gerakan lari kakiku terhenti.
Guru yang kumaksud berjalan di depanku. Mau tak mau aku harus mengikitunya dari
belakang. Mungkin hanya itu yang bisa ku lakukan. Beruntungnya guru itu masih
mentolerir keterlambatanku. Aku segera duduk dan mengeluarkan buku. Sepertinya
detak jantungku mulai normal kembali. Lega.
Siang ini matahari begitu terik. “Key, makan yok.”
“Ayo. Siap..” Aku dan Chaca pergi ke sebuah resto jepang untuk makan siang.
Rencananya setelah itu kami akan berjalan-jalan. Kami memilih duduk di bangku
deretan kanan nomor delapan. Seorang pelayan menghampiri kami. Kami segera
memesan makanan. Kurang lebih lima belas menit kemudian makanan yang kami pesan
datang. Kami langsung melahapnya habis-habisan karena sangat lapar. Makanan disini
memang lezat. Tak heran jika banyak orang yang datang. Harganya juga lumayan.
Sampai akhirnya kami kenyang. Tiba-tiba handphone Chaca berbunyi. “Hallo...”
Chaca menjawab panggilan itu. Ternyata papanya yang menelfon.
“Key, sorry ya kayaknya kita nggak jadi pergi deh.
Papaku udah on the way jemput nih.”
“Oke nggak apa-apa kok. Aku bisa pergi sendiri kali
Cha...”
Kami menuju kasir. Kemudian aku menemani Chaca duduk
di depan resto menunggu jemputan papanya. Tak lama kemudian papa Chaca datang.
“Eh udah di jemput tuh. Duluan ya key..sorry nggak bisa nemenin. Kapan-kapan
deh. Oke?” “Iya bawel..sana gih udah di tungguin tuh.” Chaca melambaikan tangan
dan memberi senyum ceria. Dia memang anak yang periang.
Aku segera meninggalkan resto itu dan menuju ke
sebuah toko buku. Ini adalah toko buku favoritku. Aku ingin mencari novel
terbaru. Kubuka pintu toko itu dan kulihat-lihat jajaran rak buku di depanku.
Aku mulai mencari satu per satu sampai akhirnya aku menemukan novel itu. Tapi
aku tidak ingin pulang. Jadi aku memutuskan melihat-lihat buku yang lain.
Kulihat buku demi buku satu-satu. Saat aku sedang membaca sebuah buku, seorang
laki-laki berdiri tak jauh dari tempatku. Dari belakang sepertinya aku
mengenali sosok itu. Laki-laki itu berbalik. Saat itu barulah aku tau siapa
dia. Ternyata dia adalah Yulian! Oh tidak! Dia ada disini! Sendiri! Ah. Rasanya
aku ingin berteriak lagi. Sepertinya aku semakin betah berada disana. Karena diam-diam
bisa memperhatikan wajah manisnya. Aku pura-pura mencari-cari buku padahal
sebenarnya aku sedang mengikutinya. Sepertinya dia tak menyadarinya. Aku
menyukai momen-momen seperti ini. Kebahagiaanku tak berangsur lama. Dia keluar
dari toko itu. Sepertinya buku yang diinginkannya tak ada disana. Berhubung dia
pulang, aku juga ikut pulang. Hari ini hari yang menyenangkan.
Aku merasa bahagia setiap kali bertemu dengannya. Maka
dari itu, aku senang jika ada acara kumpul bersama entah itu dalam rangka apa
karena disitulah aku bisa bertemu dengannya. Misalnya saja saat acara istigosah
ataupun saat acara motivator sebelum pelaksanaan ujian nasional. Sesekali
mataku melirik ke arah tempat duduknya. Aku bisa melihatnya tertawa bersama
teman-temannya. Aku selalu memperhatikan gerak geriknya. Hingga suatu malam aku
memimpikannya. Mimpi yang begitu indah.
Akhirnya ujian nasional telah selesai. Lega rasanya.
Salah satu beban berat dalam hidupku berkurang satu. Setelah ujian, semua siswa
kelas XII di liburkan. Aku merasa sedih. Jika kami semua di liburkan, itu
berarti aku tak bisa lagi bertemu dengan Yulian, laki-laki yang sejujurnya
sangat aku cintai. Aku tak bisa lagi melihat manis lesung pipitnya, tak bisa
lagi diam-diam memperhatikannya. Tapi tak apa, masih ada beberapa kesempatan
bertemu dengannya sampai kami benar-benar terpisahkan.
Setelah dua minggu akhirnya hari yang kutunggu telah
tiba. Mungkin bukan hanya aku yang menanti-nanti hari ini melainkan semua anak
kelas XII. Hari ini hari perpisahan untuk kelas XII. Semua anak kelas XII
berpenampilan rapi. Ada yang mengenakan kemeja, dress, jas dan batik. Semua
terlihat tampan dan cantik. Juga terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya.
‘Sweet Memories of Smada’ menjadi tema perpisahan kali ini. Sepanjang acara
kami di hibur dengan bermacam-macam hal, seperti tarian tradisional, dance,
kolaborasi bernyanyi, drama, paduan suara dan lain sebagainya. Setiap kali anak
kelas XII melewati red karpet pasti akan menjadi pusat perhatian, bagai raja
dan ratu yang dikelilingi rakyatnya. Aku jadi sedikit canggung. Aku duduk di
samping Chaca dan beberapa temanku yang lainnya. Aku dan teman-temanku sangat
menikmati acara hari ini. Ketika aku menoleh ke kiri, tak sengaja aku melihat
Yulian. Hari ini dia terlihat lebih tampan dengan batik yang dikenakannya.
Sepertinya dia juga sangat menikmati acaranya. Ku perhatikan dia terus tertawa.
Tawa bahagia yang terpancar dari wajahnya, ya aku bisa melihatnya. Akhirnya aku
bisa kembali melihatnya.
Acara perpisahaan selesai, dilanjutkan dengan foto
bersama. Semua anak sibuk dengan kameranya. Tiba-tiba aku ingin sesuatu. Aku
ingin foto bersamanya, ya dengan Yulian. Tapi aku tak berani berbicara
dengannya.
“Cha, pengen deh foto sama Yulian. Dia dimana ya?”
“Cari aja. Ayo..entar aku deh yang bilang ke dia.”
“Emang berani? Sok berani ih..”
“Lhah, ngapain nggak berani? Mari kita cari sang
pujaan hati hehe.”
Chaca menarik tanganku. Dia menarikku dan mengajakku
menyelusuri setiap sisi gedung. Tapi sosok yang kami cari tak ada disana. “Udah
pulang kali Cha, udah ah capek.” “Nggak mungkin kali. Tuh, temennya aja masih
pada di situ. Udah deh yuk cari lagi.” Sepertinya Chaca begitu semangat untuk
mempertemukan aku dengannya. Kami mencarinya diluar. Baru beberapa menit kami
keluar, tiba-tiba Yulian muncul di hadapan kami. Aku kaget. Seketika jantungku
berdegup kencang. Sangat sangat kencang. Seluruh tubuhku gemetaran. Dan aku
langsung memalingkan badan. Tapi tidak untuk Chaca. Dia malah mendekati dan
berbicara dengannya. Tingkah Chaca begitu memalukan. Mana mungkin dia mau?
“Eh, temenku mau foto bareng. Boleh?”
Yulian menganggukkan kepala. Itu berarti dia mau.
Oh, jantungku semakin berdebar-debar. Chaca menarik lagi tanganku sampai
akhirnya aku berada tepat di samping Yulian. Aku tak berani memperlihatkan
wajahku padanya. Tapi akhirnya mau tak mau aku harus melakukannya. Aku
mengucapkan terima kasih padanya. Kemudian dia pergi bergabung dengan
teman-temannya. Untung saja tadi dia sendirian. Coba saja dia bersama
teman-temannya. Mau ku taruh dimana wajahku?
Berhari-hari, berminggu-minggu ku lewati. Aku rindu
dengannya. Aku ingin melihatnya. Kira-kira kapan aku akan bertemu dengannya? Terakhir
kali kami bertemu ketika cap tiga jari untuk ijazah di sekolah. Libur usai
ujian nasional begitu membosankan. Tak ada kegiantan yang kulakukan. Setiap
hari hanya menonton televisi. Sampai akhirnya ada pesan masuk di handphoneku.
Pesan itu dari temanku. Dia memberi tahu bahwa lusa semua anak kelas XII
dimohon datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Dalam hati aku bahagia.
Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya.
Aku sudah tak sabar menunggu lusa. Aku sangat
berterima kasih karena tuhan masih memberi kesempatan untuk bertemu dengannya.
Aku merindukannya. Aku juga rindu dengan teman-temanku. Rindu keseruan mereka
yang tak ada habisnya. Siang berganti malam. Malam berganti pagi. Pagi berubah
menjadi siang. Siang berganti lagi menjadi malam. Dan akhirnya pagi pun datang.
Aku semangat sekali hari ini. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Yulian.
Sampai juga aku di sekolahan. Sekolah belum begitu
ramai. Aku dan beberapa orang temanku duduk di depan kantor guru. Disana juga
ada beberapa teman Yulian. Tapi sepertinya dia belum datang. Tak lama kemudian
datang seorang teman Yulian yang kabarnya dekat dengan Yulian. Wanita itu duduk
di sampingku. Aku tak senang dengan posisi seperti ini. Mengapa dia harus duduk
di sampingku? Memangnya tak ada tempat lain? Atau dia memang sengaja? Entahlah.
Terserah dia.
Yulian tiba-tiba datang. Dia menyapa wanita itu dan
duduk di sebelahnya. Mereka terlihat sangat akrab. Sakit hatiku melihat semua
itu. Lebih baik aku tak tahu. Daripada aku tahu dan menyakiti hatiku. Mereka
terus mengobral kemesraan seperti tak ada orang lain disana, seperti dunia
hanya milik mereka berdua. Aku memutuskan untuk pergi dari sana. Aku tak kuat
jika harus terus melihatnya. Aku ingin menangis tapi aku menahannya. Aku ingin
marah tapi aku tak berhak. Aku cemburu tapi aku sadar siapa diriku. Aku sadar
siapa aku, siapa Yulian dan siapa wanita itu. Mengapa semua begitu menyakitkan.
Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tak pernah diharapkan. Aku terabaikan. Dan
aku tersisihkan.
Untuk seseorang yang tak pernah bisa ku miliki.
Entah mengapa aku menyukaimu. Entah apa yang membuatku suka padamu. Entah angin
apa yang telah menghantarkanmu ke hatiku. Aku tak tahu. Yang aku tahu, hatiku
adalah milikmu. Entah apa yang istimewa darimu hingga aku jatuh hati padamu.
Entah mengapa aku jatuh hati pada seseorang yang bahkan tak mengenalku. Tak
tahu siapa aku dan dari mana asalku. Kau telah menorehkan warna di hidupku.
Juga pemberi semangat dalam hidupku. Tapi mengapa juga kamu membuat air mata
ini menetes di pipiku. Mungkin aku terlalu mengharapkanmu. Mengharapkan cinta
dan kasih sayangmu yang seharusnya tak pernah kutunggu. Mengharapkan kehadiran
sosokmu yang yang tak pernah ada untukku. Bagaimana mungkin aku mencintai orang
sepertimu? Yang jelas-jelas tak tahu isi hatiku. Bagaimana bisa kamu tahu isi
hatiku jika peduli akan perasaanku saja kamu tak mau. Bagaimana mungkin
jantungku berdebar-debar saat jumpa denganmu atau sekedar memikirkanmu? Bagaimana
mungkin hatiku bergejolak saat ku sebut namamu dalam hatiku? Sangat tidak
pantaskah aku memilikimu? Salahkah diri ini karena telah mencintaimu? Begitu
tak mau tahukan kamu tentang apapun mengenai aku? Bahkan ketika hatiku menjerit
meminta bantuanmu, kamu tak menolongku. Begitu hinanyakah diriku hingga tak
pantas bersanding denganmu?
Katakan apa yang harus ku lakukan. Apa aku harus
merengek-rengek, memohon-mohon sambil berlutut di depanmu? Aku selalu menerima
segala bentuk pencampakan itu. Dan berharap suatu hari nanti kamu membalas
perasaanku. Tenang saja, aku akan selalu setia menunggumu. Walau namaku tak
pernah ada di hatimu. Walau kamu lebih memilih bersama wanita itu. Aku mencoba
seolah-olah aku tak apa-apa. Yang sejujurnya hatiku sangat terluka. Bagaimana
bisa tidak terluka? Ketika aku melihat kalian duduk berdampingan dan tertawa
bersama. Hatiku remuk dan hancur. Hatiku teriris-iris. Dan bukan hanya mata ini
yang menangis, hatikupun ikut menangis. Bagaimana tidak? Aku menyaksikannya di
depan mataku. Bagaimana bisa aku berpura-pura seperti tak ada apa-apa?
Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Aku tak lebih
cantik dari dia. Aku juga tak lebih pintar darinya. Dia sosok yang sempurna.
Sementara aku jauh dari sempurna. Aku berusaha untuk tegar. Aku berusaha untuk
menerima kenyataan. Dan aku berusaha untuk merelakan. Tapi aku tak bisa jika
harus melupakan. Karena hatiku masih untukmu. Aku tak pernah bisa membencimu
walau beribu kali kamu mengecewakanku.
Aku tak pernah menyalahkanmu. Semua ini salahku.
Mengapa aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu? Aku hanya ingin kamu
peka akan perasaan itu tanpa pernah memberitahukannya padamu. Sebenarnya aku
telah memberitahukannya padamu. Mungkin kamu tak tahu. Bodohnya aku. Mengapa
aku tak berani melakukan itu? Tapi tak apa. Walaupun aku tak bisa memilikimu,
walaupun aku tak berada di dekatmu, walaupun aku tak duduk bersamamu, doaku
selalu ada untukmu. Semoga bahagia dengan pilihanmu. Bahagiamu juga bahagiaku.











