Rabu, 06 Mei 2015

Apa Kabarmu, Putih Abu-abu?



Apa kabar masa putih abu-abu? Lama tak menyapamu. Putih abu-abu, apa kau tahu? Malam ini, tiba-tiba aku merindukanmu. Rindu kenangan-kenangan pada masa itu. Masa putih abu-abu. Masa dimana aku masih sedikit lugu. Masa yang mengenalkanku pada dunia baru. Memang benar tentang apa yang orang katakan, masa putih abu-abu adalah masa paling menyenangkan, tak terlupakan, dan penuh dengan kenangan. Ya, kenangan kebahagiaan. Kenangan-kenangan manis yang kita ciptakan tak akan kulupakan. Mungkin awalnya kita tak saling mengenal. Tapi berkat ketidakkenalan itulah kita menjadi teman. Terima kasih teman, kalian telah memberiku banyak kenangan walaupun tak semua kenangan itu menyenangkan. Terima kasih telah memberikan warna di masa putih abu-abuku.
Dulu ketika kita masih duduk dibangku SMA rasanya aku ingin segera keluar dari sana, melanjutkan cerita menjadi mahasiswa. Mungkin kalian juga sama, ingin secepatnya lepas dari jenjang SMA. Benarkan? Dan kini, setelah aku menjadi mahasiswa, rasanya aku ingin kembali menjadi anak SMA. Bukan karena rindu akan pelajarannya tetapi karena rindu akan teman-teman disana. Rindu dengan kenangan yang ada disana. Rindu dengan kalian, teman. Apa kalian juga merasakan?
Aku tahu, aku bukanlah sosok orang yang senang berbicara. Yang kalian tahu, aku adalah sosok yang pendiam. Asal kalian tahu, aku tidak sekedar diam. Dalam diamku, sebenarnya aku memperhatikan kalian. Memperhatikan tingkah kalian. Bagiku, itu adalah hal yang menyenangkan. Mungkin sesekali aku juga bergabung dengan kalian. Kalian tahu? Kalian adalah teman yang sampai sekarang belum kutemukan dibangku perkuliahan. Tidak ada yang seperti kalian. Kalian menyenangkan dan penuh kenangan. Kalian tak tergantikan dan tak dapat diduakan.
Sekarang kita telah berpisah, berbeda arah, dan tak lagi satu sekolah. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kerja, kuliah, dan mungkin sebentar lagi ada yang ingin menikah. Tak lagi kulihat wajah-wajah kalian. Dan tak lagi kudengar canda tawa kalian. Ketika aku rindu kalian, aku hanya bisa melihat foto-foto kenangan yang pernah kita ciptakan. Ya, melihat foto-foto kalian yang jumlahnya ribuan. Dengan melihat foto kalian sedikit membuatku merasa senang. Aku sangat bersyukur mempunyai teman seperti kalian.
Teman, aku rindu kekompakan kalian. Apa kalian ingat? Tahun pertama kita bersama, banyak yang bilang kelas kita kompak. Dan banyak yang iri dengan kekompakan kelas kita. Akan tetapi, pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit kekompakan itu perlahan menghilang, entah apa yang menyebabkan. Mungkin karena kesalahpahaman atau mungkin itu sudah takdir tuhan. Itu adalah cobaan yang diberikan tuhan, teman.
Teman, aku harap kekompakan yang pernah kita ciptakan tak hilang termakan zaman. Walaupun memang kadang ada pertikaian, tapi tolong jangan jadikan itu alasan untuk menciptakan kebencian. Kita adalah teman, teman seperjuangan. Ketika kita bermusuhan, ingatlah saat dimana kita saling bergandengan. Ingatlah bahwa kita adalah teman. Teman, teman, dan teman. Dan tetaplah bergandengan tangan. Semoga kita semua sukses dimasa depan. Semoga kita tak saling melupakan. Semoga kenangan kita selalu terkenang. Dan maaf jika aku mempunyai kesalahan. Terimakasih, teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar